Sepucuk Surat Untuknya
 “Nira kamu disuruh latihan Tapak Suci sama Kak Agza tuh” ucap sahabatku Kevin, aku spontan terkejut ”Siapa itu kak Agza? yang mana orangnya sih Vin? Aku penasaran nih!” tanyaku “Itu lho anak kelas 12 yang tinggi, kulit kecoklatan, orangnya juga cool, keren lah pokoknya”  kata Kevin. Aku dulu saat SMP pernah mengikuti lomba Tapak Suci dan memasuki SMA semester 1 ini tiba-tiba ada yang mengajakku latihan Tapak Suci. Menurutku, sangatlah aneh apalagi yang mengajakku latihan itu orang yang belum kukenal.
Esok adalah latihan Tapak Suci pertamaku di SMA ini. Awalnya aku merasa malu, karena hanya aku satu-satunya perempuan di tempat latihan ini apalagi yang kukenal disitu hanyalah Kevin saja. Kami memulai pemanasan dari kepala, sampai ujung kaki. Setelah pemanasan, kami menendang box dan hanya aku sendiri yang tidak memiliki pasangan untuk menendang. Ya, biasanya kami berpasangan untuk menjadi lawan bermain. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang membawa box dan menghampiriku, dia pun menyuruhku menendang boxnya “Apa ini orang yang bernama kak Agza?” tanyaku dalam hatiku sendiri sambil menendang “Tendangan depanmu bagus, coba tendang lagi yang lebih kuat!” kata lelaki itu kepadaku. ”Kamu dulu pernah ikut lomba Tapak Suci tingkat apa?” tanyanya ”Aku baru pernah ikut popda kak” jawabku, popda adalah kepanjangan dari pekan olahraga seni tingkat daerah. Dan lama-kelamaan kami pun mulai akrab walaupun aku belum terlalu mengenalnya tapi dia sudah membuat aku nyaman dengannya. Sebelum kami pulang, kami berkumpul dulu dan sepertinya ada seseorang yang ingin menyampaikan sesuatu. ”Minggu depan kita mengadakan UKT yaitu Ujian Kenaikan Tingkat, yang mau ikut pendaftaran bayarnya 100.000 di Agza, dan itu wajib bagi anggota Tapak suci disini!” kata seorang lelaki ber sabuk biru. Aku ingin mengikutinya tetapi aku ingat bahwa minggu depan aku ada acara pernikahan sepupuku dan saat itu juga aku kebingungan. ”kak mau tanya yang namanya kak Agza itu mana ya?” tanyaku ke lelaki bersabuk biru ”Itu dia yang berada di pojok yang tinggi dan berkulit coklat itu” jawabnya kepadaku. Dan ternyata tebakanku benar, dialah yang memegang box ku tadi, orang yang berkulit coklat yang mengobrol lama denganku. ”Kamu udah melati berapa Nira?” tanya kak Agza yang tiba-tiba sudah berada di sebelahku ”kaget aku, ku kira siapa! maaf kak aku terkejut aku melati 2 kak” jawabku sambil terkejut tadi. Melati itu adalah tingkatan sabuk untuk perguruan Tapak Suci sebelum naik ke sabuk biru seseorang harus melalui tahap tingkat dasar sabuk kuning, jika sudah menjalankan UKT baru seseorang dapat naik tingkat menjadi sabuk kuning melati 1, sampai selanjutnya sampai melati 4 baru sabuk biru dasar, dan melanjutkan lagi sampai sabuk biru melati 4, barulah nanti setelah sabuk biru dilalui menjadi sabuk hitam sampai yang terakhir sabuk hitam melati 4. ”Kak Agza, nanti bisa ajari aku materi melati 2?” tanyaku ke kak Agza ”Iya nanti kuajari gampang” jawab kak Agza kepadaku dengan senyumannya.
Keesokan harinya aku berangkat sekolah, melewati koridor sekolah ”Aaa.. Kak Agza lewat ma!” teriak kak Marsha kepada temannya Rahma. Kak Marsha adalah seseorang yang paling cantik di sekolahku dia terkenal cantik putih baik lagi, dan kabarnya lagi dia menyukai kak Agza apalagi dulu juga dikabarkan kak Agza itu suka sama kak Marsha tapi, saat itu kak Marsha itu berpacaran dengan kak Bagus, kak Agza pun sakit hati sampai-sampai dia memberikan pesan kepada kak Bagus ”Gus, jagain Marsha ya!” kata kak Agza kepada temannya sendiri yaitu kak Bagus dan sambil menangis. ”Iya sha aku lihat kok, ku akui dia keren” kata kak Rahma ”Nira kamu besok ikut UKT kan?” tanya kak Agza padaku di depan kak Rahma dan kak Marsha, ya sebenarnya sih aku enggak enak sama mereka tapi ya gimana lagi dia yang menanyaiku ya ku jawablah ”Kak tapi besok aku ada acara keluarga, itu kan diadain besok jumat kan nah acara keluargaku ada di sabtu pagi, gimana kak boleh ijin pulang ngga sih paginya itu?” tanyaku kepadanya ”Enggak boleh, lagian kalau acaranya enggak ada kamu juga tetap berjalan lancar kok” kata kak Agza padaku ”Rahma, dia ngomong sama kak Agza coba, siapa sih itu? emang dia ada urusan apa sama kak Agza? Pokoknya aku benci! Jarang lho kak Agza ngobrol sama cewek tuh!” kata kak Marsha kepada kak Rahma aku mendengarnya karena suaranya yang lumayan keras, dan kak Rahma pun berbisik-bisik kepada kak Rahma, tapi aku juga enggak menghiraukan juga sih. Sorenya aku berangkat Tapak suci, dan semakin banyak orang yang mengikuti Tapak suci ini. Aku mempunyai teman baru yang lumayan dekat denganku dia bernama Irla yang ternyata dia sesekolahan denganku, tapi karena sekolahku banyak muridnya jadi enggak semua anak seangkatan aku hafal deh. Dia baru pertama kali masuk Tapak Suci ini jadi dia masih sabuk dasar. Aku sendiri di latih kak Agza pola langkah segitiga, segiempat, dan paku-paku. Pola langkah segitiga, segiempat, dan paku-paku itu adalah materi sabuk kuning melati 1 tapi karena aku lupa jadi aku minta pengulangan lagi, sampai-sampai kak Agza menggambarkan aku langkah-langkahnya sedangkan yang lain berkumpul masing-masing tingkatan dan kebetulan sekali hanya aku yang melati 2 jadi rasa-rasa privat gitu. Saat dia menggambarkan pola langkah untukku, Irla datang dan bertanya ”Kakak gambar apa? Untuk siapa kak? tanya Irla ”Ini surat untuk si Nira, ya kan nir?” canda kak Agza padaku ”Iya dah, terserah kakak aja, surat kok ada rumus nya” jawabku agak sewot.
Setelah lama aku mempelajari pola langkah, hari yang di nanti telah tiba. Jum’at sore ini kami berangkat dari tempat latihan ke tempat ujian menggunakan truk bersama teman-teman tapak suciku, sebelum berangkat ternyata ada yang terlambat dan dia belum naik ke truk kami, padahal kami sudah mau berangkat. ”Brum...” sebuah motor melewati truk kami, dan ternyata pengendara motor itu adalah kak Agza yang memboncengkan seorang cewek yang sepertinya terlambat tadi, dan entah mengapa aku merasa agak sakit hati ”Ya Allah kenapa ini? Kok aku lihatnya enggak suka ya? Sakit hati lagi? kenapa ini? Ya Allah rasa ini enggak enak banget!” batinku dalam hati. Setelah kami sampai di tempat ujian kami langsung melakukan pembukaan dan setelah itu kami sholat ashar. Selesai sholat ashar saat aku mau mengenakan sandal gunungku tiba-tiba kak Agza memanggilku dari kejauhan ”Nira sini!” perintah kak Agza, aku berjalan menghampirinya ”Ada apa kak?” tanyaku kebingungan ”Itu ada ayahmu,kamu mau pulang sekarang? atau mau lanjut?” tanyanya padaku, spontan aku kaget dan kebingungan ”Sekarang ini kak? ayahku dimana sekaran kak?” tanyaku ”Itu di depan” jawabnya. Aku berlari menghampiri ayahku ”Yah lah kok di jemput sekarang? aku kan mintanya besok, emang kalau besok ayah enggak bisa jemput ya? ” tanyaku pada ayahku ”Bisa kok, ini bundamu tadi yang minta” jawab ayahku ”Yah kalau jemput pagi aja gimana? Soalnya aku belum ujian nih” kataku ”Ya enggak papa, bisa kok” kata ayahku ”Bentar ya yah, aku mau tanya-tanya dulu sama panitianya” kataku. Aku berlari menghampiri kak agza ”Kak, kalau aku ikut ujian kira-kira kapan mau penilaiannya ya?” tanyaku ”Ya nanti malam kamu ujian, besok pagi sehabis subuh kamu pulang ke tempat latihan bareng panitia yang mengambil makan, soalnya makanannya dipesan dan dianternya di tempat latihan, jadi nanti kamu pulangnya bareng mereka aja” terang kak Agza padaku. Aku berlari lagi menghampiri ayahku dan berterus terang meminta ayahku menjemputku lagi di tempat latihan besok pagi. Nama-nama kami di panggil dan dikelompokkan berdasarkan tingkatan sabuk, dan lagi-lagi aku sendiri yang perempuan dikelompokan anak-anak yang sudah melati 1, tambah lagi mereka semua itu anak laki-laki jadi aku sekelompok dengan anak laki-laki dan materinya pun sedikit berbeda dengan mereka. Kebetulan sekali orang yang menilaiku itu kak Agza, dan kak Agza lah yang melatihku jadi aku enggak terlalu merasa takut walau masih agak grogi. Setelah ujian kami malamnya langsung jerit malam dan masih ujian fisik, pos pertama kami ujian fisik dan berpasang-pasang untuk sabung. Sabung adalah bertarung adu kekuatan dalam tempat yang telah ditentukan. Aku tak mendapat pasangan lagi ”kamu mau sabung atau mau push up?” tanya panitianya padaku tegas ”kalau aku mau sabung, aku sabung sama siapa?” tanyaku polos ”ya sama anak laki-laki juga enggak papa” katanya ”Hah?Aku push up aja lah” kataku menolak ”ya, kamu push up 30 kali, set up 30 kali, dan back up 30 kali” perintahnya. Selesai aku mengerjakan tugas ujian fisik ku tadi, kami melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya ”Semangat ya, itu yang dibelakang dijagain” teriak seseorang yang ada dibelakang kami dan kutengok ternyata itu teriakan kak Agza ”Kenapa ya kok kayaknya aku senang? aku ini kenapa sih?” tanyaku dalam hati. ”Itu pos terakhir, ayo kesana cepat kayaknya yang lain udah pada tiduran” kata seorang lelaki yang memimpin kelompokku ”Sekarang jam berapa?” tanya anggota yang lain ”Jam 3” jawab yang lainnya. Kami berjalan ke pos terakhir dan segera merebahkan badan, aku tertidur dengan posisi duduk membungkuk ”Hei! Ayo bangun, subuh” kak Agza membangunkan seorang anak laki-laki yang tanpa kusadari tidur di sebelahku dan spontan aku juga terbangun untuk sholat subuh. ”Nira, itu mobilnya langsung masuk aja. Hati-hati ya!” kata kak Agza yang menghampiriku saat ku memakai sandal gunungku ”Oh ya kak, makasih ya” kataku, aku berjalan ke arah mobil itu dan aku pun langsung pulang. Sesampainya di rumah entah mengapa aku ingin chat dia lewat facebook ”Assalamualaikum, kak Agza?” chatku padanya, tapi saat kutunggu lama ternyata dia tidaklah menjawab chatku. ”Ceting...” hpku berbunyi tanda ada pesan masuk ”Nira, aku chat kak Agza di balas lho salamku. Padahal dia orangnya cuek ya sama cewek” chat untuku dari Irla ”Iyakah Ir? Kok aku enggak ya? Padahal dia kalau di dunia nyata enggak cuek lho sama aku” kataku sedih ”Iya? Coba kamu chat ulang” chat Irla. Kucoba chat lagi dia, sampai lumayan banyak chatku belum di balas padahal dia sering on dan sering menjawab chat si Irla.
Seminggu setelah UKT berlalu dan seminggu setelah aku chat dengannya tanpa ada balasan chat, aku dipilihnya untuk mengikuti lomba Tapak Suci tingkat Nasional, dan hari  ini aku tidak latihan melainkan menonton lomba Tapak Suci tingkat Kabaupaten. Saat aku berada di sana aku mencari pertandingan yang sekiranya berat badannya sebanding denganku, siapa tau aku menemukan lawanku besok. Aku tidak mengikuti lomba yang ini karena persyaratannya harus mempunyai sertifikat lomba Silat apapun itu alirannya, karena aku lomba Tapak Suci nya saat SMP, jadi enggak bias dipakai deh. Aku menemukan sebuah pertandingan yang menurutku dia seperantara denganku berat badannya dan aku mulai menontonnya “Kira-kira dia besok bakalan jadi lawanku bukan ya? Mukanya aja sangar mengerikan pula” Kataku dalam hati dan aku mulai agak ketakutan. Saat pengumuman pemenang, aku terkejut karena orang yang kuamati tadi, dia adalah orang yang mendapatkan piala juara 1 di kelas yang berat badannya pas denganku.
Hari demi hari semakin berlalu tak kusangka inilah hari H bagiku, dimana hari yang membuat jantung ku hampir copot dan berbunyi “Dag…Dig...Dug…Der…” Karena lomba Tapak Suci ini. Aku memulai pemanasan dan tiba-tiba “Nomor urut 45, Nira Malchoqy dari SMA Al Luqman dan Nadia Faiyana dari  SMA Bimasakti harap segera pergi ke sumber suara untuk registrasi” Aku dipanggil untuk regristasi lomba, disampingku ada seorang perempuan dan nomor urutnya sama denganku “Jangan-jangan dia adalah lawanku, dan sepertinya aku tak terlalu asing dengan wajahnya” batinku dalam hati. Aku mencoba mengingatnya, dan sedikit demi sedikit aku mulai mengingatnya, dia adalah orang yang kuamati saat lomba di kabupaten itu, dia lah orang yang menjadi juara 1 saat itu, seketika itu pun aku takut, gundah, gelisah, galau, dan merana “Bagamana ini?” panikku dalam hati. Namaku dipanggil lagi untuk lomba, kali ini pembimbingku adalah kak Agza “Bersedia, sikap, yaa!” teriak wasit memulai pertandingan “Tendang Nira! Kakinya dipakai jangan cuma memukul aja!” teriak kak Agza. Saat aku menendang, kakiku tertangkap olehnya dan dia menjatuhkanku beberapa kali. Wasit memegang tangan kami menandakan bahwa penentuan pemenang. Tangan lawanku diangkat dan aku mutlak kalah dalam pertandingan ini.
Aku termenung di teras tempat latihan “Tap…Tap…Tap...”  terdengar suara hentakan kaki melangkah ke arahku ”Sayang sekali ya” Spontan aku menoleh ke sumber suara itu ”Kira-kira menurutmu aja ya, apa penyebanya kamu kalah? kamu merasa kakimu berat atau kakimu sulit bergerak atau gimana?” tanya kak Agza ”Entahlah kak, saat aku melihat lawanku aku agak takut”  jawabku pelan ”Jadi kamu takut, bukan karena hal lain?” tanyanya lagi ”Menurutku sih ya karena takut dan nerveous.Ya seperti orang berpidato itu lho kak kalau takut pasti hilang semua pidatonya” jawabku lagi. Aku berlatih lebih giat lagi, tiba-tiba kak Agza menanyaiku ”Nira, kamu pilih dibunuh atau yang membunuh?” tanyanya ”Yang membunuh lah!” jawabku ”Nah, kamu pilih yang ditakuti atau yang menakuti?” tanyanya lagi. Aku terdiam agak lama memikirkan hal itu dan dia selalu memberiku motivasi yang paling kuingat adalah ”Bukan seberapa besar musuhmu, bukan seberapa banyak musuhmu, dan bukan seberapa banyak kau jatuh, tapi seberapa banyak kau bangkit” itulah kalimat pemotivasiku.
Aku dipilih kak Agza lagi untuk mengikuti perlombaan, dia memberikan kesempatan kedua untukku dan aku tidak ingin mengecewakannya lagi. Aku sudah berada di tempat lomba, aku pun duduk diatas sembari melihat-lihat pertandingan. Seorang perempuan lewat didepanku dia melihatku sambil tersenyum manis kepadaku. Ia adalah lawanku ia bersama rombongannya melewatiku, dan mereka duduk disebelah rombonganku apalagi dia duduk di samping kak Agza. Kak Agza menghampiriku meninggalkan tempat duduknya ”Wah, ternyata dia ikut lagi ya Nira. Ingat ya kamu jangan takut, tunjukkan kalau kamu itu bukan Nira yang dulu. Tunjukan ke dia ”ini lho tendanganku” dan setelah kamu menendangnya turunkan kakimu secepatnya sebelum dia menangkapnya!” perintah kak Agza untukku. Tanganku mulai dingin, bibirku agak pucat, dan aku bertanya pada diriku sendiri akankah aku bisa melawannya atau tidak. Wasit mempersilahkan aku untuk mulai memasuki gelanggang pertandingan ”Bersedia, sikap, yaaa!” suara wasit memulai pertandingan. ”Dug...” aku dijatuhkan lagi seperti dulu kala, tapi aku harus bisa berpikir bagaimana cara agar kakiku tidak tertangkap olehnya. Aku menendangnya lagi dengan kuat dan ku turunkan dengan cepat kakiku ”Blak..” dia jatuh karena tendanganku. Wajahnya agak kemerahan dan sepertinya lawanku sudah mulai emosi karena tendanganku tadi. ”Dap..” aku terkena pukulannya, dan yang paling menyakitkan adalah pukulan yang dibuatnya itu mengenai behelku. Wasit memberikan pelanggaran dan mengurangi pointnya. Sakit sekali yang kurasakan rasanya gigiku udah pada ompong nyeri banget rasanya ”Aku harus bisa menahannya. Aku tak ingin mengecewakannya lagi!” batinku dalam hati. Kupukul dia berkali-kali bahkan bertubi-tubi aku memukul dada nya dengan kuat ”Istirahat, masing-masing kembali ke sudut” wasit memberikan waktu istirahat kepada kami. Aku meminum air putih yang kak Agza berikan kepadaku, dan entah mengapa perasaanku mulai aneh lagi dan aku merasa senang saat kak Agza memberikanku minum. Tiba-tiba saja lawanku melemparkan sabuknya menandakan bahwa lawanku mengalah karena dia mengalami sesak nafas. Kak Agza menatapku dengan senyum indahnya dan aku mengembalikan senyumanku padanya, dan jantungku pun berdegup kencang, aku pun semakin bingung dengan diriku sendiri. Juri memberikan medali emas kepadaku, dari ujung kak Agza lari menghampiriku ”Selamat ya Nira, kamu sudah berhasil mengalahkannya” Ucapnya senang ”Iya kak, aku sangat berterima kasih kepada kakak yang sudah mau membimbing aku latihan dengan sabar dan terima kasih motivasi yang kakak banyak berikan padaku” ucapku agak gugup.
Tak terasa hari demi hari kulalui Tapak suci bersamanya dan sebentar lagi ada acara pentas seni untuk kelulusan kelas 3. Aku menuliskan surat terakhir untuknya tapi aku agak ragu, bingung, dan takut ”Itu dia kak Agza” batinku dalam hati melihat kak Agza yang sepertinya sedang berpamitan ke guru-guru ”Irla, ayo antar aku!” kataku ”Mau kemana Nir?” tanyanya bingung ”Ayolah ikut saja” kataku, dan kami pun berjalan ke dekat pintu keluar yang kira-kira akan dialui kak Agza. Kak Agza berjalan ke arah pintu keluar ”Kak Agza” panggilku padanya, diapun menoleh ke arahku ”Iya?” katanya ”Ini kak” kataku sambil menyodongkan sepucuk surat untuknya ”Apa lagi ini?” tanyanya keheranan ”Alah kak ini lho yang terakhir” kataku agak gugup ”Ya, makasih ya” katanya sambil mengambil suratku dia pun langsung pergi, aku membalikkan badanku ke arah sekolah ”Hati-hati ya! Semangat Tapak Suci nya” pesan kak Agza yang terakhir untukku sambil melambaikan tangannya. Inilah isi suratku untuknya ”Assalamualaikum, maaf kak aku udah lancang sama kakak. Sebenarnya aku sudah lama mempunyai rasa yang berbeda dengan kakak dan kemungkinan besarnya rasa itu adalah rasa suka aku kepada kakak. Oh ya aku mau tanya kenapa kakak cuek banget kalau di chat? Apa kakak marah sama aku? benci? Atau kenapa? Maaf atas semuanya dan terima kasih atas semua motivasi-motivasi yang telah kakak berikan padaku”. Aku pun meneteskan air mata setelah memberikan sepucuk suratku tadi,  antara senang dan sedih, senangnya saat dia memberikanku pesan terakhir untukku dan semangat yang terakhir untukku tapi di sisi lain aku merasa sedih karena dia pergi merantau ke Universitas yang lumayan jauh dari sekolahanku dan kemungkinannya aku tidak bertemu lagi dengannya. Aku hanya bisa berdoa, berdoa, dan terus berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar ku dapat dipertemukan olehnya lagi.
5 tahun kemudian, sepulangku dari latihan Tapak suci yang masih kujalani aku melihat di depan rumahku terdapat sebuah mobil berwarna silver yang tak ku kenali sebelumnya ”Assalamualaikum”  salamku memasuki rumahku ”Waalaikumussalam, sini nak kita kedatangan tamu dari jauh” kata ayahku, tamu itu menengok kearahku ”Hai Nira, apa kabar?” sapa tamu itu kepadaku, sungguh tak ku sangka itu adalah kak Agza yang kutunggu selama ini, dia yang belum membalas chatku sekian lama ini ternyata langsung menghampiri ayahku sendiri ”Nira jadi gini, maaf kemarin kakak enggak membalas chatmu, karena kakak agak ragu aja dan enggak mau membuat Nira baper dulu. Kakak mau memantapkan diri dulu Nir! Maaf ya Nira” sesal kak Agza padaku  “ Oh ya, om minta izinnya ya untuk mengajak Nira jalan-jalan boleh?” tanya kak Agza pada ayahku ”Oh iya, hati-hati ya, jangan aneh-aneh, ingat ya za nunggu Nira selesai kuliah baru kamu boleh melamarnya” kata ayahku ”Ish ayah ini, bikin Nira malu aja” kataku tersipu malu ”Siap yah” kata kak Agza pada ayahku ”Bentar ya kak Agza aku mau siap-siap dulu” kataku dengan senang, mereka pun melanjutkan percakapan mereka. Sungguh Allah lah yang mengerti perasaan hambaNya dan yang terbaik untuk hambaNya.

Karya : anisa raihananta

Komentar